Pantai Pok Tunggal

5:34 PM

Gunungkidul. Ketika menyebut satu nama kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta ini pikiran saya langsung melintas ke berbagai tempat wisata yang ada di sana terutama jajaran pantai berpasir putih yang sangat memanjakan mata. Dan di hari Jumat kemarin saya akhirnya bisa menyapa lagi lautan dan pasir putih di pantai selatan Gunungkidul, tepatnya Pantai Pok Tunggal. Satu pantai yang belum terlalu ramai dikunjungi wisatawan namun mungkin tidak untuk beberapa waktu ke depan, dugaan saya. Pantai ini terletak beberapa kilometer (tepatnya saya lupa) di sebelah timur Pantai Pulang Syawal dan sekitaran 2 km ke arah Selatan. Dua kilometer ke arah Selatan ini ditempuh dengan medan jalan yang kurang bagus. Tapi hal tersebut akan terlupakan karena terbayar dengan hamparan laut di depan sana.


Satu tantangan yang sangat tidak berarti untuk para pencari kesenangan hari itu adalah terik matahari yang begitu menusuk terlebih lagi kami sampai di pantai sekitaran jam 1:30. 
image

Selain pasir putih pantai ini juga terdapat karang-karang kecil di pinggiran pantai, berhati-hatilah karena karang itu biasanya berpenghuni binatang laut. Dan sangat apesnya saat itu kaki saya terkena entahlah semacam bulu hewan berwarna putih yang menusuk jari kaki saya. Sakit? Lumayan perih.

Di pantai ini seorang teman saya yang mengaku sebagai agen Neptunus non-aquarius tapi baru pertama kali ke pantai, mengirimkan surat untuk Neptunus dengan perahu kertas. Iya, ini bukti kalau film atau pun novel Perahu Kertas sangat-sangat dikagumi.

Setelah puas bermain air -walaupun tidak terlalu basah, menikmati pantai dan berfoto-foto -yang ternyata hasilnya cuma sedikit, kami melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan, entah itu ucapan selamat jalan dari Neptunus ataupun malah Zeus sebagai penguasa langit, hujan pun turun dengan sangat deras. Percuma saja kalau kami memaksa jalan walaupun memakai mantel toh akhirnya kami tetap basah. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh, mencari sesuatu sebagai pelampiasan dari rasa dingin.

Membunuh rasa bosan dan dingin sembari menunggu hujan reda, kami habiskan dengan membicarakan apapun. Dan kau tahu? Agen Neptunus yang harusnya tidak takut dengan air justru menggigil kedinginan, melipat kakinya diujung kursi di depan sebuah bengkel dengan memegang seplastik teh hangat.

Suasana ketika hujan adalah hal cocok untuk mendengarkan musik dengan tempo medium-slow. Dan akhirnya saya menikmati alunan lagu dari Aurette And The Polska Seeking Carnival dan Endah N Rhesa.

Selepas hujan reda kami melanjutkan perjalanan ditemani rasa dingin yang semakin menusuk. 
Menjelang enam, mata saya tak hentinya melihat ke arah barat menyapa senja yang akan segera menampakkan diri. 
image
Menikmati semburat jingga di bukit bintang
Baru pertama kali saya melihat senja dari semburat kuning, jingga, kemerahan hingga gelap dan saya merasa sangat-sangat terpesona :')

You Might Also Like

0 comments